holaaa.. :)
Agustus ini umur gue genap 23 tahun. Sebelum nulis postingan ini, gue baru aja flashback mengingat semua kejadian2 yg pernah gue alami dalam hidup gue sampai skrg. And suddenly, i have a good mood to write something, well its yours.
Hhmm.. ga tau mulai dari mana, overall kehidupan gue hampir sama dengan remaja yang lain. Remaja? yahh, remaja yang menuju dewasa. Sebenernya gue sdh cukup dewasa dari tahun2 sebelumnya. Dulu waktu smp, gw punya buku tulis, setiap halaman dibawahnya ada berbagai kutipan-kutipan yang waktu itu gue ga tau apa maksudnya, yang gue ingat ada kutipan seperti "the best teacher is experience". Well, its only quote guys, tapi percaya ga percaya, itu yang buat gue jauh lebih dewasa dan bisa berfikir dengan rasional dalam menghadapi suatu case yang gue alami.
Sekolah, percintaan remaja, ngelawan bonyok, ngerokok, mulai pinter ngeclub, ga pulang2, minggat, kuliah ga kelar, dll (*lebih parah). If time could be repeated, I wouldnt do those things, just study, study and study. But I can't do anything. inevitably, I should be ready with all the risks. Ga nyesel juga, cuma seandainya bisa, tetap bangga kok with what i did during this. Justru ngeliat temen yang sekarang lg pada heboh bandel, kaya ngingetin gw dulu juga begitu. Such a feeling of disgust and upset to see them, dan mungkin org2 jg pernah ngejudge seperti itu ke gue. Namanya juga hidup, yaa terima sajalah :)
But that doesn't mean now that I am a better person or someone who is perfect. Tapi setidaknya uda punya sedikit pengalaman, jd agak bisa menghandle semuanya, walaupun ga perfect tp better than before lah. Kaya kutipan yang gue bilang tadi "the best teacher is experience". Its a popular quote, semua orang juga taulah maknanya, tapi ya itu. emang bener2 meaningful.
Cuma ngingetin ama abege2 sekarang, jgn bandel2 lah, follow your mother rules, trust me it will make you better oneday. Im fine now, but i will get better if i do what my mother said.
Goodluck..... :)
when I had the idea to create a new entry in this blog, that's when I began to analyze and solve them. Here I write about what I thought was interesting to be read by everyone. so happy reading guys :)
28/03/12
25/01/12
Petani dan Saudagar Kaya
Alkisah, dahulu kala di sebuah desa di negeri Cina, hidup seorang saudagar yang kaya-raya. Ia memiliki perkebunan yang sangat luas. Bisa dibilang ia adalah konglomerat di masanya.
Suatu hari, dalam perjalanan pulang sehabis memeriksa perkebunannya, ia melihat seorang petani miskin yang sedang asyik menikmati makan siangnya yang sederhana. Dengan angkuh, sang saudagar berkata, "Hai petani miskin, bagaimana engkau bisa menikmati makanan itu! Aku tidak akan mau melakukannya, meski dibayar berapa pun!"
Si petani menjawab, "Tuan, semalam aku bermimpi bahwa orang terkaya di desa ini akan meninggal malam ini."
Sang saudagar kaget bukan kepalang, karena ia adalah satu-satunya orang terkaya di desa ini. Dengan marah, ia lalu berkata, "Hati-hati hai petani, jangan asal bicara! Bila tidak terbukti, aku akan membunuhmu!" Segera ia pun meninggalkan si petani.
Sepanjang perjalanan, ia terus mengomel kesal. Namun, tak dapat dipungkiri, ia terpengaruh juga oleh perkataan petani tadi. Nafsu makannya sontak hilang, tidur pun sulit. Akhirnya, ia memerintahkan pembantunya untuk memanggil tabib terbaik.
Tabib lalu memeriksa kondisi kesehatan sang saudagar itu, dan berkata, "Tuan, Anda dalam kondisi prima. Mustahil bila Anda akan meninggal malam ini." Sang saudagar tetap tidak merasa tenang. Akhirnya, tabib berkata, "Baiklah tuan, demi menenangkan Anda, saya akan menemani Anda hingga esok pagi."
Waktu pun berjalan detik demi detik, hingga malam pun tiba. Sang saudagar mulai terlihat pucat. Malam kian larut, dan tabib terus berupaya menenangkannya. Hingga akhirnya pagi pun menjelang, tanpa terjadi apa-apa pada sang saudagar.
Seketika dengan nada yang sangat marah, ia berteriak, "Kurang ajar petani itu! Ia telah menipuku. Akan kubunuh ia sekarang!" Ia segera menyambar pedangnya dan mengendarai kudanya untuk mencari si petani. Namun, ketika sampai di kampung si petani, ia memperoleh kabar bahwa semalam si petani telah meninggal.
----------------
Dear friends,
Dari kisah ini terlihat bahwa di mata Tuhan, petani itulah orang kaya yang sebenarnya. Mengapa demikian? Karena, ia selalu mensyukuri karunia Tuhan, apa pun bentuknya. Berbeda sekali dengan sang saudagar, yang selalu merasa kekurangan, meskipun telah memiliki kekayaan yang banyak. Di sini bisa terlihat siapakah orang kaya sejati: mereka yang selalu merasa cukup, ataukah mereka yang selalu merasa kurang?
Kisah bijak dari Cina ini mengingatkan saya pada bait indah dalam munajat Sayidah Fatimah az-Zahra: "Tuhanku, jadikanlah aku merasa cukup dengan segala pemberian-Mu."
Ah, betapa damai dan indah dunia, bila penghuninya adalah orang-orang yang pandai bersyukur.
Suatu hari, dalam perjalanan pulang sehabis memeriksa perkebunannya, ia melihat seorang petani miskin yang sedang asyik menikmati makan siangnya yang sederhana. Dengan angkuh, sang saudagar berkata, "Hai petani miskin, bagaimana engkau bisa menikmati makanan itu! Aku tidak akan mau melakukannya, meski dibayar berapa pun!"
Si petani menjawab, "Tuan, semalam aku bermimpi bahwa orang terkaya di desa ini akan meninggal malam ini."
Sang saudagar kaget bukan kepalang, karena ia adalah satu-satunya orang terkaya di desa ini. Dengan marah, ia lalu berkata, "Hati-hati hai petani, jangan asal bicara! Bila tidak terbukti, aku akan membunuhmu!" Segera ia pun meninggalkan si petani.
Sepanjang perjalanan, ia terus mengomel kesal. Namun, tak dapat dipungkiri, ia terpengaruh juga oleh perkataan petani tadi. Nafsu makannya sontak hilang, tidur pun sulit. Akhirnya, ia memerintahkan pembantunya untuk memanggil tabib terbaik.
Tabib lalu memeriksa kondisi kesehatan sang saudagar itu, dan berkata, "Tuan, Anda dalam kondisi prima. Mustahil bila Anda akan meninggal malam ini." Sang saudagar tetap tidak merasa tenang. Akhirnya, tabib berkata, "Baiklah tuan, demi menenangkan Anda, saya akan menemani Anda hingga esok pagi."
Waktu pun berjalan detik demi detik, hingga malam pun tiba. Sang saudagar mulai terlihat pucat. Malam kian larut, dan tabib terus berupaya menenangkannya. Hingga akhirnya pagi pun menjelang, tanpa terjadi apa-apa pada sang saudagar.
Seketika dengan nada yang sangat marah, ia berteriak, "Kurang ajar petani itu! Ia telah menipuku. Akan kubunuh ia sekarang!" Ia segera menyambar pedangnya dan mengendarai kudanya untuk mencari si petani. Namun, ketika sampai di kampung si petani, ia memperoleh kabar bahwa semalam si petani telah meninggal.
----------------
Dear friends,
Dari kisah ini terlihat bahwa di mata Tuhan, petani itulah orang kaya yang sebenarnya. Mengapa demikian? Karena, ia selalu mensyukuri karunia Tuhan, apa pun bentuknya. Berbeda sekali dengan sang saudagar, yang selalu merasa kekurangan, meskipun telah memiliki kekayaan yang banyak. Di sini bisa terlihat siapakah orang kaya sejati: mereka yang selalu merasa cukup, ataukah mereka yang selalu merasa kurang?
Kisah bijak dari Cina ini mengingatkan saya pada bait indah dalam munajat Sayidah Fatimah az-Zahra: "Tuhanku, jadikanlah aku merasa cukup dengan segala pemberian-Mu."
Ah, betapa damai dan indah dunia, bila penghuninya adalah orang-orang yang pandai bersyukur.
Langganan:
Postingan (Atom)
